Perihal

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengapa ada blog ini?

Awalnya karena saya sedang belajar untuk membaca hadits-hadits shahih. Saya baca ada riwayat tentang cara Nabi saw. beribadah, anjuran dan larangan dari beliau, petunjuk beliau mengenai tanda-tanda kiamat, dsb. dan hal-hal lain yang biasa kita dengar di khutbah, ceramah, atau tausiyah; atau juga kita temukan di kitab-kitab di toko buku.

Tetapi di sela-sela itu saya baca juga bagaimana Rasulullah saw. penah kesal, pernah lupa, pernah merasa canggung menerangkan sesuatu, pernah membantu mencari kalung isterinya yang hilang, dan hal-hal lain yang praktis juga terjadi pada kita.

Rasanya, hal seperti ini lebih jarang kita dengar. Dari sinilah saya tergerak untuk mengumpulkan riwayat-riwayat seperti ini.

Apakah riwayat-riwayat seperti ini bermanfaat?

Hm, itu tampaknya tergantung pada kita. Saya sendiri melihat bahwa riwayat-riwayat ini bisa makin menonjolkan aspek manusianya Rasulullah saw., makin memperlihatkan bahwa beliau adalah manusia seperti kita juga.

Mudah-mudahan ini makin mendekatkan kita kepada beliau; dan pada ujungnya makin memotivasi kita untuk meneledani beliau.

Apa kriteria "aspek manusiawi" yang menentukan apakah sebuah riwayat bisa masuk ke blog ini?

Terus terang, tidak ada kriteria yang pasti. Harus saya akui, feeling saya banyak berperan di dalam menentukan apakah satu riwayat akan masuk ke sini, atau tidak.

Apa kriteria "hadits shahih" di sini?

Sementara ini saya pikir hadits-hadits dari Shahih Bukhari atau Shahih Muslim akan menjadi sumber pengambilan riwayat. Sekarang ini saya baru baca Shahih Bukhari.

Dari mana asal teks hadits atau terjemahannya?

Dari sunnah.com. Saya copy-paste saja.

Naskah Arab-nya saya salin apa adanya. Di terjemahan saya lakukan sedikit suntingan sbb.:
  • Saya koreksi kata-kata yang jelas-jelas salah ketik.
  • Rantai perawi diberi huruf yang lebih kecil, serta dipotong-potong menurut urutan rantai. Mudah-mudahan ini bisa makin mempermudah kita di dalam membaca hadits.
  • Rantai "Telah menceritakan kepada kami A berkata, telah mengabarkan kepada kami B dari C berkata, ... dst." yang sangat kentara aroma ilmu haditsnya, saya sunting menjadi "Telah menceritakan kepada kami A, dia berkata telah mengabarkan kepada kami B dari C, dia berkata, ... dst." Ya tapi tidak ada jaminan bahwa cara penulisan ini membuat rantai menjadi lebih enak dibaca.
  • Kalimat orang berkata akan diberi titik dua (:) diiringi ucapannya di antara dua tanda kutip ganda ("..."). Jika kalimat itu berisi ucapan orang lain, maka anak-ucapan ini diberi titik dua (:) diikuti perkataan di antara dua tanda kutip tunggal ('...'). Ucapan perawi pertama diusahakan hanya dengan titik dua saja, agar tidak terlalu banyak tanda kutip yang anak-beranak.
  • Nama perawi pertama saya berikan warna biru agar jelas siapa yang meriwayatkan hadits ini; begitu juga kata atau kalimat yang menonjolkan aspek manusiawi Rasulullah saw. diberi warna biru pula. Naskah hadits tetap ditampilkan lengkap; siapa tahu banyak hal lain yang bisa kita pelajari di riwayat itu.
  • Ada juga ungkapan dalam bahasa Arab yang saya kembalikan ke bahasa aslinya karena terjemahannya tidak begitu jelas.
Naskah hadits akan muncul bila kita klick "Baca lebih lanjut →". Penomeran hadist mengikuti cara USC-MSA (University of Southern California - Muslim Students Association) tanpa nomer kitab. Urutan penampilan hadist, jika lebih dari satu, biasanya dari yang nomer terkecil ke yang terbesar; tetapi ada juga beberapa pengecualian.

Bolehkah orang lain ikut berkonstribusi di blog ini?

Oh, silakan. Kontak saya saja di abahjajang@gmail.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar